Motivasi Diri

Bagaimana Menjadi Proaktif?

Kualitas kehidupan kita 10 persen ditentukan oleh apa yang terjadi pada diri kita, dan 90 persen ditentukan oleh bagaimana kita menanggapi kejadian-kejadian tersebut.

Sejak awal tahun 1990-an, istilah proaktif semakin marak digunakan dalam literatur manajemen dan pengembangan diri. Secara agak khusus istilah proaktif “menggeser” kata inisiatif, karena memiliki pengertian yang lebih kaya, lengkap, luas dan dalam.

Menurut Stephen Covey (1932-2012), salah seorang tokoh yang mempopulerkan istilah ini, proaktif didefinisikan sebagai kekuasaan, kebebasan, dan kemampuan untuk memilih respon-respon kita terhadap apa yang terjadi atau menimpa diri kita berdasarkan nilai-nilai yang kita anut. Lawan kata proaktif adalah reaktif, yakni ketidakberdayaan dan ketidakbebasan serta ketidakmampuan memilih respon terhadap apa yang terjadi pada dirinya dan/atau ketidakjelasan mengenai nilai-nilai yang kita anut.

Seseorang dikatakan proaktif apabila ia mengambil inisiatif untuk bertindak, berpikir positif terhadap apa yang telah terjadi, dan menerima tanggung jawab atas tindakannya. Sementara orang reaktif tidak berinisiatif, berpikir negatif, dan menolak tanggung jawab—karena merasa bahwa pihak atau hal lain di luar dirinyalah yang bertanggung jawab (baca: selalu mencari kambing hitam).

Meski secara teoritis manusia proaktif dan manusia reaktif dapat dibedakan secara gamblang, namun dalam kehidupan sehari-hari pembedaan tersebut tidak mudah dilakukan. Hal ini terutama disebabkan tidak ada seorang pun dapat dikatakan proaktif 100 persen atau reaktif 100 persen. Atau tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim bahwa responnya selalu proaktif atau reaktif melulu, sepanjang waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, nonstop. Mereka yang 100 persen proaktif mungkin malaikat (bukan manusia) dan mereka yang 100 persen reaktif adalah binatang (juga bukan manusia).

Sepanjang sejarah, orang-orang yang disebut proaktif—seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr, Abraham Lincoln, Bung Karno, Bung Hatta, Victor Frankl, Bunda Teresa, Nelson Mandela, dan yang lainnya—sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai orang-orang yang memiliki proaktivitas tinggi. Mereka memberikan respon proaktif dalam banyak aspek kehidupan mereka (ekstensitasnya) dengan kualitas tinggi (intensitasnya). Artinya, dari 10 kejadian yang menimpa hidup mereka, 9 di antaranya ditanggapi secara proaktif.

Meminjam konsep Covey, mereka yang disebut proaktif itu dapat memiliki proaktivitas tinggi karena mengembangkan karunia-karunia Tuhan yang diberikan secara khusus kepada mereka, yakni kesadaran diri, hati nurani, kehendak bebas, dan daya imajinasi kreatif.

Kesadaran diri adalah kemampuan kita untuk mengambil jarak terhadap diri sendiri dan menelaah pemikiran, motif-motif, sejarah, “naskah” hidup, maupun kebiasaan dan kecenderungan kita—melepas “kacamata” kita dan melihatnya. Kesadaran diri merupakan fokus dari gerakan penyembuhan, psikoanalisis (Sigmund Freud, dkk) dan psikoterapi (Victor Frankl, dkk).

Hati nurani menghubungkan kita dengan kearifan zaman dan kebijaksanaan hati, merenungkan prinsip dan praktik, memahami bakat dan menentukan misi hidup kita. Hati nurani merupakan fokus agama, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa, moralitas, dan etika.

Kehendak bebas adalah kemampuan untuk bertindak atau memilih tindakan, kemampuan memberikan tanggapan berdasarkan kesadaran diri, hati nurani dan visi kita. Kehendak bebas merupakan fokus pendekatan kekuatan kehendak—di mana ada kemauan di situ ada jalan, tiada derita tiada prestasi.

Imajinasi kreatif adalah kemampuan untuk meneropong keadaan di masa yang akan datang, untuk menciptakan sesuatu dalam benak kita, dan memecahkan masalah secara sinergetik. Imajinasi kreatif adalah fokus dari gerakan visualisasi dan kekuatan pikiran—positive thinking (Norman Vincent Peale, dkk), possibility thinking (Robert Schuller, dkk), lateral thinking (Edward de Bono), psycho-cybernetics (Maxwell Malzt), Neuro-Linguistic Programming/NLP (Bandler-Grinder dkk) yang kemudian direvisi menjadi Neuro-Associated Conditioning/NAC (Anthony Robbins, dkk), dan sebagainya.

Empat hal tersebut di atas merupakan karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia agar manusia dapat mengalami kepenuhannya sebagai manusia ciptaan Tuhan. Binatang tidak memiliki hal-hal tersebut. Karenanya tidak ada respon kambing, anjing atau monyet sekalipun yang dapat disebut proaktif. Binatang diciptakan sebagai makhluk yang reaktif. Mereka tidak memiliki kesadaran diri (bahwa mereka ada di sini dan kini), tidak punya hati nurani (benar salah, etis dan tidak etis tak pernah mereka pikirkan), tak memiliki kekuatan kehendak dan tidak mampu berimajinasi secara kreatif (tidak dapat berkhayal dan melamun seperti manusia).

Orang reaktif menggunakan bahasa yang berbeda dengan orang yang proaktif. Orang reaktif sering mengatakan, misalnya: “Tak ada yang bisa saya lakukan”, “Begitulah saya”, “Ia membuat saya sangat marah”, “Saya harus…”, atau “Hanya jika…, saya akan …”

Orang proaktif lebih suka menggunakan ungkapan seperti: “Mari kita lihat alternatif-alternatif yang ada”, “Saya dapat memilih pendekatan yang berbeda”, “Saya lebih suka”, “Saya akan…”, dan sebagainya.

Uraian Covey memiliki persamaan dengan apa yang disinggung oleh M. Scott Peck dalam bukunya The Road Less Travelled (1985). Dalam bab mengenai disiplin, sebagai sarana, teknik dan cara menghadapi penderitaan hidup yang konstruktif, Peck menjelaskan empat unsur disiplin: menunda kepuasan (delaying gratification), menerima tanggung jawab (acceptance of responsibility), menjunjung tinggi kebenaran (dedication to the truth or reality), dan menyeimbangkan (balancing). Hanya dengan menjalani disiplin, menurut Peck, orang bertumbuh menjadi dewasa secara mental dan spiritual.

Dalam uraian mengenai acceptance of responsibility, Scott Peck memberikan contoh mengenai mereka yang tidak sehat-jiwa, yakni yang neurosis dan yang mengalami character dis-order. Orang-orang neurosis dikenali dengan ungkapan-ungkapannya, seperti: “Saya seharusnya”, atau “Saya mestinya”, atau “Saya seharusnya tidak”. Mereka cenderung untuk menyalahkan diri sendiri dan menyesali diri secara berlebihan. Mereka yang mengidap character dis-order (sakit jiwa?), berkata, “Saya tidak mampu”, atau “Saya dulu tidak bisa”, atau “Saya terpaksa”, “Saya harus”. Orang-orang ini melihat dunia luarlah yang bertanggung jawab, orang lain atau lingkungan sekitarlah yang memaksa mereka berbuat demikian.

Ungkapan reaktif menunjukkan gejala yang disebut Peck sebagai neurosis maupun character dis-order. Keduanya menunjukkan ketidakmatangan jiwa dan spiritual. Keduanya menjadi akar penyebab keinginan bunuh diri pasien-pasien yang dilayani psikiater ini.

Jadi, menjadi proaktif sesungguhnya adalah panggilan kemanusiaan untuk menjadi sehat secara mental dan spiritual. Dengan mengembangkan proaktivitas kita memenuhi derajat kemanusiaan kita setinggi-tingginya, seutuh-utuhnya, sesehat-sehatnya. Dan itulah sebabnya saya senang memberikan pelatihan yang menolong orang-orang mengembangkan proaktivitas yang telah mereka miliki, sementara pada saat yang sama saya mengembangkan proaktivitas dalam diri saya sendiri.

*) Penulis: Andrias Harefa. Trainer-Speaker-Pengalaman 22 tahun. Penulis 40 buku best-seller.
*) Bergabunglah bersama kami dalam workshop publik yang diadakan Mitra Pembelajar:
– 12-13 Mei : MBTI untuk Membangun Tim Juara
– 13-14 Mei : Be a Super Supervisor
– 14 Mei : Highly Effective Reading
– 13-14 Mei : PR Writing, Journalism for PR Executives
– 19-20 Mei : Pemimpin Kredibel Pemimpin Visioner
– 20-21 Mei : Speak Up and Be Counted

Sumber: Andreas Harefa, Manusia Pembelajar.

Motivasi hari ini:
Penglihatan dapat merubah perilaku atau kebiasaan seseorang. Rubahlah kebiasan-kebiasan buruk melalui penglihatan yang baik.

Gabung Sekarang di Support System PayTren ImpianClub

Sharing is caring!

URL singkat : http://bit.ly/1kvlrrC
The following two tabs change content below.
Agronomist, Investor, Trader Forex, Reseller dan Internet Marketer. Saat ini saya bermitra dengan SkyWay (Investasi Saham Real Proyek), Program CryptoUnit, Duyunov's Motor, Aquix, PT. Melia Sehat Sejahtera - MLM No 1 di Indonesia dan Reseller beberapa produk terlaris. Hal ini memberikan solusi bagi kawan-kawan yang menginginkan pekerjaan dan sumber penghasilan tambahan. Mau informasi selengkapnya tentang Kami, silahkan lihat [ IdentitasKu ] [ PendidikanKu ] [ PekerjaanKu ] dan dapat dilihat di profil social media Kami. Filosofi : Tidak ada kata GAGAL, yang ada hanya SUKSES atau BELAJAR - Semangat pantang menyerah. Target atau Goal yang sudah dibuat harus diberikan Perhatian, Energi dan Fokus. MAU berubah hidup 180 derajat?. KUASAI Kekuatan pikiran, kekuatan perasaan dan kekuatan spiritual. Perbanyak tindakan #JustDoIt, karena dengan bertindak pasti ada hasil. Sabar, tetap semangat dan maju terus meraih impian. Sukses buat kita semua !. Kami dapat dihubungi di No: 0811 5018 144 - 0812 4844 544 (Telp/WA), eMail : support@impianclub.com.

Related posts

Silahkan berikan komentar Anda - Pembelajaran Buat Kita Semua

shares
0

Your Cart