Continuous Improvement (CI) Strategi Jitu dalam Efisiensi
Perekonomian dunia yang mengalami krisis, berimbas di segala sektor usaha untuk melakukan penghematan atau menekan biaya dalam menjalankan roda bisnisnya. Diperlukan semangat, etos kerja dan rasa memiliki yang tinggi saat krisis terjadi, agar perusahaan bisa bertahan (survival) alias tidak bangkrut.
Beberapa langkah yang harus diterapkan saat krisis :
1. Fokus terhadap peningkatan produktifitas dan prioritas kerja
Produktifitas pelaku usaha harus ditingkatkan, batas minimum sesuai budget. Melakukan pekerjaan prioritas: menunjang produksi dan eksploitasi produksi (panen, pupuk, PPT Chemist dan TP2A, Team Penuntasan Permasalahan Akses).
2. Pengurangan tenaga kerja
Langkah ini memang terkesan kurang manusiawi, namun jika tidak dilakukan bisa perusahaan tutup (collapse). Usaha perkebunan merupakan bisnis padat karya, melibatkan banyak orang dalam menjalankan roda bisnisnya.
3. Melakukan penghematan biaya
Ada selentingan “sudah miskin, berlagak kaya”, ironis bukan?
Pesan orang tua kita dulu “Hemat Pangkal Kaya”, benar juga ya gan!
Biaya-biaya yang bersifat umum, aksesoris atau tidak menunjang produksi ditahan/diminimalisasi pengeluarannya. Pemakaian solar Dump Truck dan jam operasional genset harus sesuai dengan aturan. Dasar kebutuhan permintaan solar berdasarkan kalibrasi rutin per tiga bulan.
4. Penyimpangan jangan sampai terjadi
HK fiktif, penjualan solar atau tindakan kriminal lain jangan sampai terjadi. Tindak tegas kepada pelaku kriminal, tingkatkan pengawasan dan monitoring kerja yang rapi/termonitor.
5. Continuous Improvement (CI)
Continuous Improvement (CI) merupakan cara ampuh untuk menghadapi krisis dan efisiensi. Kenapa?. Karena dengan CI biaya proses produksi tidak bertambah, tetapi nilai dari yang dihasilkan semakin tinggi atau mahal harganya. Dengan CI, nilai tambah (value added) muncul. Perusahaan yang melakukan CI, sudah pasti perusahaan tersebut lebih bertahan dan profit margin lebih kuat.
Mau tidak mau… Perusahaan harus melakukan Continuous Improvement (CI) agar bisa bertahan menghadapi badai krisis. CI tidak harus dalam skala besar, bisa saja dalam hal yang sederhana (skala kecil). Misal: CI peralatan kerja panen.
Melalui kegiatan Gugus Kendali Mutu (GKM) merupakan titik awal munculnya ide-ide Continuous Improvement ini.
Kesimpulan:
Bekerja standard dengan produktifitas kerja yang baik, penyimpangan tidak terjadi, berhemat dan melakukan Continuous Improvement merupakan tindakan nyata yang harus dilakukan agar perusahaan bertahan (survival) dalam menghadapi badai krisis.
Semoga bermanfaat !
Salam Planters “every body no body”
“Aku GAGAL karena Aku !, Aku MAU Jadi Apa !”
Latest posts by Budi S @ImpianClub (see all)
- Konferensi Regional Pertama SkyWay Capital di Jakarta Indonesia ! 14.12.2019 - Oktober 4, 2021
- Atasi Kebotakan dengan Rekayasa Genetika - Oktober 4, 2021
- Activity EM BAGE, Pak Mardianto Harahap - Oktober 4, 2021
- AQUIX, Ekonomi Hijau - Oktober 4, 2021
- Motivasi Sukses - Oktober 3, 2021
Perusahaan yang bertahan ke depan adalah perusahaan yang selalu melakukan improvement dan menciptakan nilai tambah (value added).
Tingkat persaingan semakin meningkat, mau tidak mau perusahaan harus melakukan perubahan terhadap apa yang sedang terjadi.
Semua itu tidak terlepas dari 3P : people, planet dan profit.
Semoga bermanfaat.
Makasih mbak Ayu.
Kesejahteraan karyawan, harus menjadi fokus perhatian ke depan. Apalagi perkebunan kelapa sawit merupakan perusahaan yang melibatkan banyak orang (padat karya).
Menambah nilai tambah dari proses atau sesuatu yang dihasilkan, merupakan cara terbaik dalam melakukan efisiensi.