Cerita Motivasi

Membangun Spirit Keberhasilan

Spirit KeberhasilanDi sekolah kehidupan kita menyaksikan bahwa setiap manusia didorong oleh suatu keinginan untuk maju, untuk bertumbuh, untuk berkembang, untuk meraih apa yang dipahaminya sebagai kesempurnaan atau kesuksesan hidup. Dorongan untuk mencapai kesuksesan atau kesempurnaan hidup itu saya sebut sebagai spirit keberhasilan (the spirit of success), karena hemat saya dorongan tersebut bersifat spiritual. Dan spirit keberhasilan itu ada dalam diri setiap anak manusia, sebagai pertanda bahwa ia adalah makhluk spiritual, disamping tentu saja makhluk bio-sosio-psikologis.

Spirit keberhasilan itu sangat jelas terlihat dalam diri anak-anak balita. Hampir tanpa pengecualian, anak-anak balita bicara tentang keinginannya, tentang cita-citanya, tentang masa depannya. Dan hampir tanpa mempertimbangkan latar belakang sosial ekonomi orangtuanya, anak-anak itu berbicara tentang hal-hal yang “besar”. Ada yang ingin jadi pilot, ada yang ingin jadi penyanyi terkenal, ada yang ingin jadi dokter, ada yang ingin jadi pengusaha kaya, ada yang ingin jadi insiyur, ada yang ingin jadi menteri, bahkan jadi presiden, dan sebagainya. Mereka ingin punya pakaian bagus, mainan yang banyak, rumah yang besar seperti istana, mobil yang serba bisa, bahkan pesawat udara, dan seterusnya.
Mereka ingin menikah dengan puteri cantik atau pangeran tampan dari negeri seberang. Mereka berjanji akan membelikan orang tuanya sejumlah hal yang belum pernah dimiliki orang tuanya. Pergi ke bulan atau memetik bintang-bintang adalah soal-soal yang mereka lakukan kelak, suatu hari nanti. Singkatnya, spirit keberhasilan telah mengembangkan daya imajinasi anak-anak balita sampai pada tingkat yang amat mempesona.

Masalahnya kemudian, spirit keberhasilan ini perlahan-lahan meredup dalam diri sebagian besar anak-anak yang beranjak remaja dan menjadi manusia dewasa. Mereka mulai menghadapi berbagai masalah dan kesulitan untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Lingkungan dimana anak-anak itu dibesarkan seolah-olah mengajarkan mereka untuk sekadar menyesuaikan diri dengan situasi yang ada, dan bukannya untuk berjuang mengaktualisasikan segenap potensi diri guna mengubah situasi yang ada agar menjadi lebih baik. Sedikitnya dukungan dari lingkungan hidup di sekitarnya, termasuk dan terutama orang tua dan pengajar di sekolah, telah membuat banyak anak-anak usia sekolah dasar belajar untuk merasa tak berdaya, tak yakin akan kemampuannya, dan tak boleh berpikir tentang sesuatu yang besar lagi. Perlahan tapi pasti, anak-anak yang merasa tak berdaya dan tak punya keyakinan diri itu mulai membuang jauh-jauh pikiran-pikiran besar dan cita-cita terbaiknya. Dan jika perasaan tak berdaya ini berkembang terus, maka pada gilirannya ia akan melahirkan orang-orang yang pesimis memandang masa depannya.

Untunglah tidak semua anak-anak kemudian kehilangan spirit keberhasilannya. Sebagian anak-anak, terutama yang terlatih dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup di usia pra-remaja, tumbuh dan berkembang dengan cita-cita besar yang membara untuk mengubah situasi dan kondisi hidupnya. Mereka terus mencari cara untuk mencapai yang terbaik. Mereka dan orang-orang yang mendampingi mereka percaya bahwa keberhasilan hanya akan diraih oleh orang-orang yang berani menetapkan tujuan-tujuannya dan kemudian bekerja keras terus menerus sampai mereka mencapainya. Mereka meninjau kemajuannya pada setiap langkah, dan merayakan keberhasilan pada tahap-tahap tertentu. Untuk tujuan-tujuan yang belum tercapai, mereka mencari cara lain untuk kembali memulai usaha ke arah itu. Mereka merasa yakin akan kemampuan mereka, dan keyakinan itu melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang lebih besar, gagasan-gagasan yang membuat mereka bergairah dalam setiap langkah mereka. Mereka selalu melihat adanya harapan, dan karena itu mereka berkembang menjadi orang-orang yang optimis dalam menyongsong masa depan.

Jika setiap anak manusia yang dilahirkan di muka bumi ini memiliki spirit keberhasilan dalam dirinya, lalu bagaimana kita menjelaskan kenyataan di atas?… Mengapa sejumlah masalah, kesulitan, dan tantangan hidup membuat anak-anak tertentu bertumbuh menjadi orang-orang yang pesimis sementara anak-anak lainnya berkembang menjadi pribadi-pribadi yang optimis dalam memandang masa depan mereka?… Mengapa, ketika diperhadapkan pada masalah yang sama, tantangan yang sama, sejumlah orang bisa memberikan respons yang berbeda-beda?… Manakah yang membuat seseorang itu bisa menjadi pesimis atau optimis, tingkat kesulitan yang dihadapinya ATAU cara ia merespons kesulitan-kesulitan tersebut?…

Terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu, Carol Dweck, peneliti dari University of Illionis menunjukkan bahwa anak-anak yang menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat tetap [berkata pada dirinya “Saya Bodoh”] belajar lebih sedikit dibanding dengan anak-anak yang menganggap penyebab-penyebab kesulitan sebagai hal yang sifatnya sementara [“Saya tidak mencoba dengan sungguh-sungguh”]. Anak-anak yang merasa tak berdaya memusatkan perhatian pada penyebab kegagalan – umumnya diri mereka sendiri – sedangkan anak-anak yang berorientasi pada penguasaan materi memusatkan perhatiannya pada cara-cara untuk memperbaiki kegagalan. Anak-anak yang merasa tak berdaya, menghubungkan kegagalannya dengan kurangnya kemampuan [bersifat tetap], sementara rekan-rekan mereka mengaitkan kegagalannya dengan kurangnya usaha untuk itu [bersifat sementara].

Artikel lanjutan silahkan diikuti.

Semoga bermanfaat

Gabung Sekarang di Support System PayTren ImpianClub

Sharing is caring!

URL singkat : http://bit.ly/1lshAZV
The following two tabs change content below.
Agronomist, Investor, Trader Forex, Reseller dan Internet Marketer. Saat ini saya bermitra dengan SkyWay (Investasi Saham Real Proyek), Program CryptoUnit, Duyunov's Motor, Aquix, PT. Melia Sehat Sejahtera - MLM No 1 di Indonesia dan Reseller beberapa produk terlaris. Hal ini memberikan solusi bagi kawan-kawan yang menginginkan pekerjaan dan sumber penghasilan tambahan. Mau informasi selengkapnya tentang Kami, silahkan lihat [ IdentitasKu ] [ PendidikanKu ] [ PekerjaanKu ] dan dapat dilihat di profil social media Kami. Filosofi : Tidak ada kata GAGAL, yang ada hanya SUKSES atau BELAJAR - Semangat pantang menyerah. Target atau Goal yang sudah dibuat harus diberikan Perhatian, Energi dan Fokus. MAU berubah hidup 180 derajat?. KUASAI Kekuatan pikiran, kekuatan perasaan dan kekuatan spiritual. Perbanyak tindakan #JustDoIt, karena dengan bertindak pasti ada hasil. Sabar, tetap semangat dan maju terus meraih impian. Sukses buat kita semua !. Kami dapat dihubungi di No: 0811 5018 144 - 0812 4844 544 (Telp/WA), eMail : support@impianclub.com.

Latest posts by Budi S @ImpianClub (see all)

Related posts

Silahkan berikan komentar Anda - Pembelajaran Buat Kita Semua

shares
0

Your Cart