Aplikasi Mill Bio Fertilizer (MBF) di Luar Blok Rekomendasi Sampai 42%

APLIKASI MILL BIO FERTILIZER (MBF) DI LUAR BLOK REKOMENDASI SAMPAI 42% DAN APLIKASINYA MASIH TERPENCAR-PENCAR (TIDAK FULL BLOK)

Aplikasi Mill Bio Fertilizer (janjang kosong dan kompos) sebanyak 42% (tonase all BGA) dilakukan di luar blok rekomendasi. Region dengan prosentase aplikasi di luar blok rekomendasi yang lebih banyak dibandingkan blok rekomendasi adalah Mentaya (Area 1, 2A, 2B), Nanga Tayap (Area 8A), Rokan Hulu dan Pundu (Area 3A, 3B, 4A).

Selain itu, aplikasi MBF tidak secara full blok, melainkan masih terpencar-pencar, terkesan alokasi MBF permasing-masing estate kurang di- drive langsung oleh AC, cenderung tergantung kesiapan masing-masing estate dan masih sangat tergantung dari disiplin tidaknya sopir angkutan MBF dalam menuang/meletakkan di lapangan.

Tidak seimbang antara pelaporan tonase aplikasi dengan luas aplikasi. Program MBF selama Cawu-1 sebanyak 298 ribu ton dalam 764 blok seluas 16.025 Ha, sedangkan aktual aplikasinya sebanyak 105 ribu ton (atau 35% dari program) tetapi luasan aplikasinya dilaporkan seluas 16.754 Ha (atau 105% dari program). Hal ini terutama terjadi di Region Sei Rasau (Area 7A, 7B), Pundu (Area 3A, 4A, 4B), dan Sei Melayu.

Aplikasi Jankos dan Kompos BGA sampai April 2021
Aplikasi Jankos dan Kompos BGA sampai April 2021

Kami perlu mengingatkan kembali agar aplikasi MBF harus diprioritaskan pada blok-blok rekomendasi yang usulannya sendiri berasal dari lapangan (operational), dan dilakukan secara full blok (kecuali kasus khusus, misal dalam satu blok terdiri dari berbagai jenis tanah, sehingga untuk ‘rendahhan’ tidak perlu aplikasi MBF, atau masih terjadi heterogenitas figur pokok di lapangan karena diskriminasi perlakuan sebelumnya; itupun seharusnya sudah dijadikan pertimbangan sewaktu menetapkan blok rekomendasi).

Aplikasi MBF yang tidak full blok akan menyulitkan analisa/evaluasi dampak dari perlakuan MBF dibandingkan blok kontrol, menyulitkan penyusunan dosis rekomendasi pemupukan yang presisi oleh Dept. Riset karena terjadi heterogenitas status hara dalam satu blok, dan menyulitkan menentukan reduksi dosis pupuk anorganik jika suatu saat nanti Manajemen memutuskan MBF sebagai substitusi pupuk, tidak lagi komplementer.

Hal ini agar menjadikan perhatian dan action di lapangan oleh RH dan AC. Dengan keberadaan staf Koordinator Pemupukan (organik dan anorganik) di masing-masing region dan senior staf yang membidangi Yield Growth dan Soil Healthy Management Kalteng/Kalbar ditargetkan aplikasi pemupukan anorganik dan organik (MBF) menjadi lebih berkualitas dan tepat sasaran.

Data aplikasi MBF per region, per area dan per estate berikut ini. Tks.

Recommended For You

Tinggalkan Balasan



pasang iklan gratis
%d blogger menyukai ini: